Merajut Bhineka Tunggal Ika

Penulis : Rojaki, M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri  2 Sekayu)

0

Bhinneka Tunggal Ika, siapa tak kenal dengan semboyan bangsa kita ini? Sebuah frasa  yang dengan jelas telah berpuluh-puluh tahun dirumuskan  dan menjadi fondasi utama bagi bangsa kita yang bertajuk bumi pertiwi.

Sebuah semboyan yang digunakan untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Semboyan dengan berlandaskan konsep keberaagaman ini lahir dari bahasa sangsekerta pada masa Kerajaan Majapahit dan dengan jelas semboyan yang digunakan untuk mempersatukan nusantara.

Akan tetapi, bagaimana nasib semboyan Bhinneka Tunggal Ika di zaman dan era  yang semakin majemuk dan milenia ini.  Negara kita   bukan lagi didiami oleh satu atau dua agama, kelompok, ras, etnik atau suku saja seperti pada masa lahirnya ”Bhineka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa” pada masa itu? Masihkah kita  mempertahankannya? Tentunya tidak hanya sebatas lisan semata,  tetapi dihayati, diresapi, dan diimplementasikan dalam tindakan kita sehari-hari. Terlebih kita tahu bahwa  tahun 2019 lalu kita sebut sebagai tahun politik. Isu agama, suku, ras, agama mewarnai panggung politik negeri.

Ini mungkin sebuah pertanyaan retoris yang menjemukan. Sudah sering kita mendengarkan bahkan kita pun sampai bosan. Tapi,  apakah kita pantas merasa bosan bila jawaban konkretnya yang  terjadi di lapangan untuk saat ini, tentu saja Tidak.

Karena setiap hari ada saja tersiar kabar konflik saling menyerang antaragama, kelompok-kelompok radikal yang terus mengehembuskan teror-teror mengadu domba untuk saling menyerang. Ekspolitasi isu terkait agama, ras, suku dan antar golongan (SARA) tak menjadi sarapan di pagi hari.

Konflik kesukuan merupakan persoalan yang sangat mengkhawatirkan di Indonesia. Keharmonisan dalam masyarakat seakan-akan terancam oleh keberagaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia, hal yang seharusnya menjadi kebanggaan berubah menjadi sesuatu yang membahayakan, terutama bagi masyarakat multikultural (masyarakat majemuk) di negeri ini.

Seperti pepatah yang mengatakan “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”.  Penulis sangat yakin,  tidak ada satupun  golongan yang paling indah di antara suku, agama, bahasa, maupun ras. Karena semua itu sejatinya adalah kekayaan bangsa yang luhur  dan adi luhung.  Penulis meyakini bahwa  semuanya menjadi paling  indah  jikalau adanya kehidupan yang  harmonis dan sikap tolerasi di tengah perbedaan dan keberagaman bangsa ini.

Toleransi yang Mengakar

Sejatinya, sikap toleransi potensi sikap toleransi sudah ada sejak bangsa ini lahir dan hidup mengakar  pada masyarakat indonesia. Sayangnya, potensi tersebut kerap menyusut dan terjadi pasang surut saat provokasi  disulut oleh oknum oknum  yang tidak bertanggung jawab juga suara yang tidak terjaga.

Toleransi dikemas dalam peradaban budaya. Toleransi dibina dan diperkuat dalam bingkai persamaan dan persatuan bangsa. Karakter ini sangat cerdas dibiasakan, terlebih dalam lingkungan pendidikan.

Pendidikan merupakan sektor penting dalam usaha-usaha konservasi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika pada generasi muda yang sangat fenomenal ini. Sebab, dengan adanya implementasi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika pada generasi muda melalui pendidikan sejatinya kita telah mempersiapkan generasi penerus bangsa yang jauh lebih kompeten  untuk terjun dalam kehidupan  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang plural ini.

Sejatinya guru diharapkan  memilki imunitas dan pengetahuan serta wawasan yang luas tentang kebhinekaan sehingga tidak mudah goyah, dan tersulut oleh isu-isu  yang berbau provokasi dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Di sisi lain, implementasi  nilai nilai Bhineka Tunggal Ika melalui pendidikan juga dapat menumbuhkembangkan sikap dan arti pentingnya nasionalisme dibandingkan sikap egoisme kelompok yang selama ini dibungkus atas dasar “solidaritas”.  Solidaritas melahirkan persatuan.

Kata solidaritas selama ini telah membius sebagian masyarakat Indonesia  untuk berbuat lebih nekat ketika sebuah gesekan akibat perbedaan pendapat, pandangan, dan lain-lain yang berujung pada  konflik. Naifnya gesekan semakin membuka lebar luka.

Membahas tentang implementasi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks pendidikan, tentu kita akan terfokus pada peran sekolah, guru-guru sebagai ujung tombak pendidikan (garda depan) dan terlebih orang tua di rumah sebagai kelompok masyarakat terkecil. Mereka adalah  motor penggerak dalam perkembangan seorang anak menuju proses kedewasaan berpikir dan bertindak.

Keluarga khususnya orang tua dan guru-guru di sekolah diharapkan dapat melakukan filterisasi dan pengawasan terhadap perkembangan psikis pada anak. Mereka harus menyaring informasi-informasi yang masuk dalam pikiran anak-anak mereka. Jangan sampai hama-hama radikalisme tumbuh subur menghambat perkembangan bibit-bibit toleransi  antar-sesama dalam perkembangan anak-anak dan murid mereka.

Penulis : Rojaki, M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri  2 Sekayu)

Artikel ini ditulis dalam Ajang Interfaith Youth Camp 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.