Quo Vadis Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT)?

0

Gambar Bapak Hendri, S.Pd. M.Si.,  Kepala UPT SMAN 7 Musi Banyuasin sedang meninjau pelakasanaan Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas.  Siswa mencuci tangan sebelum dilakukan pengecekan suhu Badan oleh petugas Kesehatan Sekolah. [dokumen pribadi]

 

Sebuah pertanyaan mendasar, mengawali sajian artikel ini, seberapa siapkah kita mengawali perubahan baru di masa pandemik ini. Seberapa kuatkah komitmen kita menyambut dan menjalankan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas?

Dorongan Kemendikbud untuk membuka sekolah  terkait Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), bersambut baik pada tiap satuan pendidikan yang telah mempersiapkan sarana dan prasana protokol kesehatan. Tidak hanya itu, skema Standar Operasional Prosedur (SOP) pembelajaran tatap muka terbatas pun telah dipersiapkan  dengan baik guna menyambut pembelajaran tatap muka yang direncanakan Juli mendatang. Sinyalemen ini berkorelasi lurus pada data Satgas Penanganan Covid-19 per 7 April 2021, tercatat 1.547.376 kasus, kasus aktif berkurang 996 menjadi 113.570 kasus, dan kasus meninggal bertambah 87 menjadi 42.064 jiwa.

Dari jumlah keseluruhan, total kasus terkonfirmasi positif pada anak berusia 0-5 tahun sebanyak 2,8 persen, dan usia 6-18 tahun mencapai 9,4 persen atau totalnya sekitar 180 ribu kasus. Untuk jumlah anak yang dirawat atau menjalani isolasi karena Covid-19, jumlahnya sebesar 3 persen untuk anak umur 0-5 tahun dan 10,4 persen untuk anak usia 6-18 tahun. Sedangkan untuk jumlah kesembuhan, anak usia 0-5 tahun sebesar 2,9 persen dan usia 6-18 tahun mencapai 9,5 persen dari total akumulasi kesembuhan nasional.

Untuk angka kematian, anak usia 0-5 tahun dan usia 6-18 tahun, masing-masing berkontribusi sebesar 0,6 persen dari jumlah kematian seluruh kelompok umur, atau sekitar 500 kematian. Meskipun angka penularan Covid-19 masih di atas rerata yang disyaratkan badan kesehatan dunia (WHO), pemerintah menargetkan pembelajaran tatap muka di sekolah di Indonesia, sudah bisa digelar setelah guru dan tenaga pendidik selesai divaksin.

Seperti yang diuangkapkan pengamat pendidikan dari UGM, Prof. Dr. Budi Santoso Wignyosukarto memberikan pernyataan menarik. Ia menyatakan, rencana pemerintah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Juli mendatang merupakan langkah positif. Supaya pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan dengan baik dan lancar, sarannya, harus direncanakan dengan baik. Setiap  unsur pada satuan pendidikan memahami benar Standar Operasional Prosedur protokol kesehatan yang ditetapkan WHO. Lantas apa dan bagaimana rencana pembelajaran tatap muka  terbatas pada satuan pendidikan?

Bagi sebagian orang, baik  guru, orang tua, dan juga peserta didik pembelajaran tatap muka dianggap sebagai solusi atas kebosanan anak-anak dalam belajar daring di rumah. Hal itu, setidaknya, ditunjukkan dari sejumlah hasil survei yang ada selama ini dilakukan. Misalnya, survei dari United Nations International Children’s Emergency Fund (Unicef) tahun 2020 menyebutkan, 66 persen siswa mengaku tidak nyaman belajar di rumah yang selama ini dilaksanakan. Hal ini tentunya berkaitan dengan akses internet yang tidak stabil dan tugas-tugas yang tidak dapat didiskusianya secara langsung (tatap muka) dengan teman.

Sementara itu, hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2020 menyampaikan bahwa siswa mulai bosan belajar daring dan menginginkan pembelajaran tatap muka meski tidak full dalam seminggu.

Menelisik Kesiapan Sekolah

Merujuk dari hasil survei Unicef dan KPAI itu kita jumpai persoalan serupa: siswa-siswa kita mulai bosan belajar daring di rumah. Akibatnya, pihak pemerintah memutuskan jalan keluar berupa rencana pembelajaran tatap muka terbatas yang rencananya akan dimulai Juli mendatang. Hanya masalahnya, apakah pihak sekolah telah merencanakan pembelajaran tatap muka secara detail? Jika belum, maka tiga hal di bawah ini perlu disiapkan dalam menyambut pembelajaran tatap muka terbatas pada setiap satuan pendidikan.

Pertama, sosialisasi sedini mungkin rencana pembelajaran tatap muka terbatas  antara pihak sekolah, guru dengan siswa, dan orang tua siswa. Sosialisasi ini bersifat penting, mengingat belum banyak siswa atau orang tua yang mengerti akan rencana pembelajaran tatap muka terbatas pada bulan Juli mendatang meski sudah disampaikan oleh pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sosialisasi dapat dilaksanakan secara daring atau luring. Tentu saja, jika sosialisasi dilaksanakan secara luring di sekolah, maka perlu diterapkan protokol kesehatan yang ketat yakni pengecekan suhu badan saat memasuki lingkungan sekolah, menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir.

Di dalam acara sosialisasi itu, pihak sekolah dapat melakukan koordinasi dengan orang tua perihal pembelajaran tatap muka terbatas yang akan  diikuti oleh peserta didik pada tahun ajaran baru nanti. Selain itu, SOP yang telah disusun oleh pihak manajemen sekolah disampaikan dengan detail dengan panduan infografis yang menarik dan mudah dipahami oleh orang tua dan juga peserta didik.

Selain sosialisasi, setiap sekolah pun dapat melakukan simulasi pembelajaran tatap muka terbatas. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pendokumentasian dengan baik  dalam bentuk gambar/foto/ video singkat dan infografis yang nantinya dijadikan bahan sosialiasi di media sosial sekolah  WAG, fb, ig dan web site sekolah.

Kedua, terkait butir pertama, ada kesediaan dari pihak orang tua untuk mendukung rencana pembelajaran tatap muka di sekolah. Salah satu bentuk dari kesediaan itu adalah menyampaikan informasi secara jujur perihal kesehatan anaknya sebelum berangkat ke sekolah. Bila ada gejala sakit, disampaikan izin tidak masuk sekolah kepada pihak guru atau wali kelas. Bila kondisi sehat, dipersilakan untuk berangkat ke sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga sebaiknya memberikan form kesedian/izin orang tua peserta didik terkait pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi ini.

Ketiga, tindak lanjut dari butir pertama dan kedua, pihak sekolah dapat melakukan sejumlah hal. Di antaranya, standar operasional prosedur yang dibuat adalah mencakup beberaa hal penting yakni 1) Jumlah siswa yang ikut pembelajaran tatap muka di kelas separuh dari total yang ada yakni 50 persen. 2) Pengecekan  tes suhu  badan menggunakan thermo gun setiap masuk lingkungan sekolah bagi siswa dan guru di sekolah.

Selanjutnya 3) Tersedianya fasilitas kesehatan/sarana prasana berupa tempat cuci tangan dengan air yang mengalir baik, sabun cuci tangan, infografis protokol kesehatan di setiap ruang kelas. 4) alur yang jelas  yang disusun sesuai dengan protokol kesehatan dari siswa berangkat sekolah , proses kegiatan belajar mengajar, jam istirahat  hingga pulang kembali ke rumah masing-masing. Keempat  upaya ini, penulis yakini sebagai langkah efektif  dalam  mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 di lingkungan sekolah.

Terkait itu, penulis ingin sampaikan dua saran. Pertama, pihak pemerintah  yakni Dinas Pendidikan baik provinsi maupun  kabuaten/kota terus melakukan pemantauan dan koordinasi perihal kesiapan pihak sekolah dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas. Fasilitas kesehatan, kesiapan guru dan siswa dalam menaati protokol kesehatan, dan efektivitas pembelajaran menjadi tiga hal penting di dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Tanpa itu, pihak sekolah tidak diizinkan untuk pembelajaran tatap muka terbas sebelum  semua terpenuhi dengan baik.

Kedua, pihak masyarakat sekitar sekolah harus pula mempersiapkan diri dalam menyambut rencana pembelajaran tatap muka. Paling tidak, partisipasi aktif dari masyarakat sekitar sekolah dapat mencegah adanya kerumunan siswa dan menertibkan lalu lintas.

Setiap kebijakan membutuhkan analisis yang mendalam dengan mengacu banyak faktor pendukung, dan kemungkinan risiko yang muncul. Pembelajaran Tatap Muka Terbatas digelar dengan diikat standar protokol kesehatan bertujuan mengerem penyebaran wabah dan mengurangi angka terdampak. Lingkungan sekolah kerumunan sadar atau tidak mencipta kerumunan dan berpeluang terhadap penyebaran virus, dibutuhkan kearifan semua pihak khususnya para stakeholder pendidikan mengemas pembelajaran tatap muka. Selanjutnya pihak sekolah dan masyarakat sekitar dapat bekerja sama demi kelancaran pembelajaran tatap muka terbatas dan terhindar dari penyebaran virus Covid-19. Semoga.

 

Penulis:

Rojaki, M.Pd

 Guru UPT SMAN 7 Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

 

 

Dimuat di Koran harian Sumeks  pada Kolom Opini, Senin,  26 April 2021

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.