Melegitimasi Kembali Peran Guru

0

Pertanyaan sederhana dan berkesan menggelitik, apakah saya sudah menjadi guru sebenar-benarnya guru? Atau mungkin saya masih menjadi setengah hati menjadi guru?  Bagaimana bisa muncul pertanyaan yang tidak mengenakkan ini, padahal kita sudah melakoni diri layaknya seorang guru yang bertugas mengajar di sekolah. Apakah seorang guru hanya menggugurkan kewajiban mengajar, dan mengevaluasi peserta didik saja?

Kini peran penting guru semakin dibutuhkan dalam membelajarkan peserta didik menemukan nilai-nilai dalam kehidupannya. Eksistensinya kuat membangun tradisi atau budaya kejujuran di lingkungan sosial akademiknya. Profesionalitas guru merupakan keniscayaan. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu. Oleh karena itu, guru yang profesional memiliki karakter yang kuat dan dinilai memiliki integritas yang tinggi.

Idealis dan Integritas                        

Guru merupakan faktor pertama dan penentu kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran, upaya peningkatan mutu pendidikan, dan garda depan pembaharuan (Fullan: 2007; Villegas-Reimers: 2003; Levin: 2003). Dari beberapa studi diperoleh temuan bahwa terdapat hubungan kuat antara apa yang dilakukan guru dan apa yang dicapai peserta didik dalam pembelajaran (student’s achievement) (Sean L 2002; Creemers: 1994; Hanushek dan Kain: 2005). Dengan kata lain, setiap upaya yang dilakukan guru di kelas memberi pengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik dan peluang meraih kesempatan hidup yang baik.

Sosok idealis guru dapat diekspresikan dengan peran pentingnya dalam penerapan pendidikan karakter. Penanaman nilai karakter pendidikan dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu intelektualitas, sikap dan nilai. Penanaman karakter merupakan tugas utama guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk mewujudkan manusia berkualitas baik (saleh) atau mewujudkan moral truth. Keberanian, integritas, perhatian kepada orang lain, komitmen sebagai warga bangsa terhadap negara, jujur, dan sejenisnya, merupakan contoh moral truth.

Moral truth tersebut ditanamkan melalui apresiasi terhadap perbedaan agama, budaya, dan sosial. Untuk membangun karakter, seseorang harus memahami core virtues dan memiliki perhatian serta komitmen untuk menerapkannya dalam kehidupan. Lantas bagaimana nilai, sikap, atau karakter tersebut ditanamkan melalui pembelajaran?

Ada dua pendekatan dalam pendidikan karakter, yaitu pendekatan tradisional dan pendekatan terintegrasi atau komprehensif. Pendekatan tradisional pendidikan karakter menekankan pembiasaan, peniruan, modelling, pengajaran, peghargaan. Sedangkan pendekatan utuh atau terpadu pendidikan karakter berbasis pada tiga dimensi, yaitu pertama, berpikir (thinking) atau kognisi— apa yang harus dilakukan atau dipelajari. Kedua, rasa (feeling) atau afeksi— apresiasi terhadap apa yang dipelajari. Ketiga, aksi, praksis, atau amal— proses mengalami, yaitu membawa peserta pada kehidupan (pengamalan) dan tidak hanya berhenti dengan mendiskusikan apa yang sedang dipelajari.

Makhluk pembelajar ‘A teacher can never teach truly unless he is still learning himself (herself)’. Secara hakekat, guru merupakan pembelajar (murid) yang terus-menerus. Oleh karenanya, komitmen menjadi guru berarti kesediaan dan kesiapan seseorang belajar terus-menerus dalam melakukan tugas (pembelajaran), agar ia dapat merespons tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat. Terlebih saat ini dengan adaya sertifikasi bagi guru  untuk meningatkan kesejahteraan dan profesionalitas serta pengalaman mengajar yang dapat meningkatkan kemampuan guru.

Namun, keduanya tidak serta-merta dapat berfungsi untuk meng-ajegkan dan mengembangkan kompetensi guru. Sertifikasi dapat meningkatkan efektivitas (mutu) pembelajaran, sepanjang guru melakukan persiapan dalam setiap melakukan tugasnya/mengajar. Pengalaman mengajar tidak serta-merta mempunyai hubungan linier dengan efektivitas pembelajaran yang dilaksanakan seorang guru.

Pengalaman mengajar dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran manakala guru diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan profesional dengan menumbuhkan kemauan belajar terhadap yang dilakukan (Stronge, Tucker dan Hindman: 2004). Dengan kata lain, membangun a learning organization— organisasi yang belajar— dalam konsep manajemen kini merupakan syarat utama untuk sustainabilitas pendidikan bermutu.

Peneliti Tangguh

Tidak berlebihan jika guru disebut sebagai peneliti tangguh. Sebab keseluruhan tugas dan perannya tidak terlepas dengan proses observasi peserta didiknya. Kemampuan meneliti  merupakan norma dan kompetensi profesional yang melekat dalam dirinya. Kompetensi ini juga disebut dengan teacher research, yaitu para guru meneliti pembelajaran yang diselenggarakan mereka.

Riset ini dapat dilakukan dengan dua bentuk, yaitu pertama, guru melakukan penelitian langsung terhadap pembelajaran yang diselenggarakan dirinya sendiri. Kedua, ia menjadi ketua penelitian yakni yang meneliti bagian dari apa yang diteliti seorang guru lainnya terhadap pembelajaran yang diselenggarakannya.

Penelitian (teacher research) dilakukan dengan tujuan; (i) Peningkatan sense guru terhadap peran dan identitas profesional guru. (ii) Mendukung peningkatan mutu pembelajaran dan kemampuan guru dalam membuat keputusan dalam mengembangkan pembelajaran. Hal ini pada akhirnya akan memberi andil terhadap mutu pembelajaran peserta didik (Lankshear, Knobel; 2004), (iii) Proses membangun pengetahuan guru tentang pembelajaran peserta didik, bagaimana penyelenggaraan pembelajaran yang dilakukan dan juga hasil riset, dapat menjadi dasar pengembangan kurikulum, program, dan kebijakan sekolah/otonomi sekolah (Roger: 2004).

Pengembang Mutu

Beberapa pertimbangan penting, yaitu pertama, pengembangan potensi kreatif (creative power) warga bangsa merupakan sesuatu yang ingin diwujudkan melalui sistem pendidikan nasional (UU Siksdiknas). Kedua, pengembangan potensi peserta didik dapat dipahami dari perspektif globalisasi. Sangat disadari bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam menghadapi persaingan global. Era global telah melahirkan tantangan terhadap dunia pendidikan, yaitu membenahi konsep, sistem, dan mutu pendidikan.

Lembaga pendidikan, seperti sekolah, perguruan tinggi termasuk pendidik dituntut memiliki kemampuan lebih sehingga mampu bersanding dan bertanding dengan lembaga pendidikan termasuk pendidik, peserta didik/lulusan dengan lembaga pendidikan negara-negara di dunia (Burnouf: 2004; Carnoy: 1999; Zajda: 2005; Fachruddin: 2010; Fachruddin: 2008).

Ketiga, kreatif. Merupakan salah satu karakter positif dan kreativitas merupakan ‘kekayaan pribadi’ (personal properties) yang diwujudkan dalam sikap atau karakter dan cara berpikir seperti fleksibel, ingin mencoba sesuatu yang baru (penasaran), teguh (strong minded), kemampuan menjabarkan gagasan, kemampuan menilai diri sendiri secara realistis/mengenal dirinya, dan melahirkan karya-karya inovatif.

Pengembangan mutu pendidikan dan kesinambungan mutu pendidikan mempunyai kaitan erat dengan sosok guru kreatif. Guru kreatif adalah seseorang yang menguasai keilmuan (expert), memiliki otonomi di kelas (dalam proses pembelajaran), menstimulasi keingintahuan dan eksplorasi, membangun motivasi, mendorong percaya diri, dan berani mengambil risiko dalam mengelola peserta didik.

Selain itu, fokus pada penguasaan ilmu dan kompetisi, mendukung pandangan positif, memberikan keseimbangan dan kesempatan memilih dan menemukan, mengembangkan pengelolaan diri (kemampuan atau keterampilan metakognitif), menyelenggarakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai teknik dan strategi untuk menfasilitasi lahirnya tampilan/perwujudan yang kreatif, membangun lingkungan yang kondusif terhadap tumbuhnya kreativitas, dan mendorong imajinasi dan fantasi. Pastinya guru kreatif akan memberikan inspirasi kreatif kepada peserta didik (Al-Girt: 2007; Fisher: 2004). Semoga.

Penulis Arikel : Rojaki, M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Unggul Sekayu)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.