Akhirnya, Kita Berjodoh

0

Armanto, S.Pd. [Guru Bahasa Indonesi kelas X]

Pagi itu, masih ingat betul ia dengan kalimat yang pernah disampaikannya pada sang ibu. Kalimat yang ternyata hingga kini masih lekat di ingatannya.

“Aku pengen sekolah di Sekayu Mak.”

Begitulah kalimat yang sempat dilontarkannya, tapi tiada mendapat balas dari sang ibu. Ia bergeming. Tidak merespons ungkapan anak laki-laki semata wayangnya itu. Wajar memang, bila ungkapan anaknya itu tidak ia balas. Kartini tau bahwa jangankan untuk menyekolahkan anaknya di kota, sekolah unggulan lagi, memenuhi kebutuhannya sehari-hari pun ia kadang mesti berhutang. Hasil kerjanya sebagai petani karet mana cukup untuk menyekolahkan anak di kota pikirnya.

Di pagi itu juga, sama seperti seseorang yang baru saja mendapat warisan. (Mungkin), sama juga seperti seseorang yang akan menikah. Bahagia betul. Tiada terkira girangnya Zulham pagi itu. Yah, ketika sedang menyeruput teh di teras rumahnya, ia mendapat kabar bahwa diterima sebagai guru di sekolah unggulan. Memang ketika baru selesai wisuda, ia langsung mengajukan lamaran di beberapa sekolah. SMA unggulan ini salah satunya. Bagaimana tidak girang, kegalauannya ketika lamaran di beberapa sekolah tak kunjung mendapat tanggapan, akhirnya berbuah manis. Lebih lagi, sekolah ini dulunya adalah sekolah yang menjadi impiannya. Kegembiraan akan kabar diterimanya ia di sekolah itu bak gembiranya seorang pujangga yang mendapat balasan surat dari sang kekasih. Betul-betul bahagia ia pagi itu. Syukur pada Tuhan pun tak lupa ia panjatkan. Susah untuk dijelaskan kegembiraan sebab kabar itu pikirnya, hanya yang menikmati yang bisa merasakan. Setelah menganggur beberapa pekan selepas keikutsertaannya pada  wisuda ke 157, alumnus Universitas Sriwijaya itu pun akhirnya mendapatkan pekerjaan.

Hari itu, Zulham langsung segera menyiapkan diri. Segeralah ia mandi, memilih pakaian yang sesuai, memanaskan mesin motor, dan langsung pergi setelah berita baik itu ia dapati. Benar, ia masuk ke sekolah yang menjadi impiannya dulu. SMA Negeri 2 Unggul Sekayu, begitu orang-orang menyebutnya. Setelah dulu pernah ingin sekali masuk, hari itu ia menapaki kaki di sekolah itu.

Setibanya di depan sekolah, ia disambut petugas. Petugas itu memegang termometer. Pengukur suhu badan. Yah, meskipun pandemi tidak lagi sehebat dulu, pengecekan suhu badan, penggunaan masker, dan penyediaan cuci tangan diberlakukan di sekolah ini. Era normal baru memang begitu menurut kampanye pemerintah untuk menghentikan penyebaran covid.

“Tangannya pak,” ujar petugas itu ramah.

Zulham kemudian menyambut permintaan itu dengan menjulurkan tangannya. “Silakan pak,” jawabnya.

“Normal,” lanjut petugas. “Silakan pak.”

“Terima kasih pak,” balas Zulham.

Sekolah itu berada dalam “komplek sekolah.” SMA Negeri 2 Unggul Sekayu berada dalam satu perkarangan dengan SMP Negeri 6 Unggul Sekayu. Di sebelahnya, berdiri rumah sakit megah dengan banyak gedung. Rumah Sakit Umum Daerah Sekayu namanya. Kini, rumah sakit itu tiada lagi ramai dibanding beberapa bulan lalu. Pasien-pasien tidak ada lagi yang di rawat di luar ruangan, semuanya berada dalam ruangan berAC. Aktivitas di dalamnya pun tampak normal, seperti biasa. Beberapa orang ada yang masuk, seperti ingin besuk keluarganya. Tenaga medis juga ada yang baru datang, masuk sif pagi pikirnya.

Sementara, di halaman rumah sakit berjejer motor dan mobil mengisi parkiran. Mobil ambulans juga ada di parkir. Tidak sesibuk ketika hebatnya Pandemi Covid-19 melanda. Tidak keluar masuk rumah sakit mengantar dan menjemput pasien covid. Alhamdulillah.. (keadaan ini mesti kita syukuri ya gais).

Meskipun kedatangannya di sekolah itu adalah impiannya dulu, tapi ia merasa kali ini berbeda. Ia tidak datang ke sekolah dengan seragam putih abu. Bersepatu pantofel dan almamater sebagai seragam sekolah. Namun, ia datang dengan kemeja biru polos dan bawahan celana dasar. Persis seperti peraturan di kampusnya dulu. Dekan dan para dosennya dulu mengatakan bahwa guru atau calon guru mesti menggunakan pakaian rapi. Adalah sebagai pembiasaan sedari sekarang aturan berpakaian tersebut.

Treekh.. Standar motor ia turunkan. Di parkiran sekolah, ia melihat sekeliling. Seolah masih tak percaya, ia berusaha membuka riwayat pesan dirinya dengan sekolah. Ia ingin memastikan bahwa benar ia diterima di sekolah unggulan tersebut. Diterima sebagai tenaga pengajar tentunya, bukan peserta didik seperti impiannya dulu.

“Zulham, kau diterimo di sekolah. Langsunglah ke sekolah yo, temui waka kurikulum.”

Kalimat itu mengonfirmasi bahwa ia benar-benar diterima di sekolah favorit anak-anak Muba itu. Sekali lagi, wajar bila ia setengah tidak percaya. Kehidupan ekonomi dan sosialnya dulu sangat jauh untuk menggambarkan bahwa ia bisa sekolah di kota, sekolah unggulan lagi.

Ia masih ingat ketika dibagikan formulir pengisian tujuan SMA dulu sewaktu masih duduk di SMP, lama ia merenung. Mau ia isi apa formulir itu. SMA mana yang akan ditujuinya. SMA yang di Sekayu atau SMA yang berada di dekat rumah? Pilihan yang memang sama-sama memiliki konsekuensi. Pikirnya, jika sekolah di Sekayu, selain akan menambah banyak ilmu pengetahuannya, ia juga akan dapat memperluaskan pergaulan dan pola pikir. Tentu, dengan masih banyak keuntungan lainnya. Namun, konsekuensinya adalah ia mesti menyiapkan sejumlah uang yang tidak sedikit bagi keluarganya. Biaya pendaftaran masuk, uang fotokopian, tugas, buku, transportasi, dan lain-lain. Terlebih, ia mesti menghadapi rintangan yang tidak kalah besarnya. Bahwa rasa ketidakpercayaan dalam dirinya untuk masuk sekolah impiannya itu hadir dalam hatinya. Rasa ketidakpercayaan itu seolah rintangan besar seperti pohon tumbang yang menggangu perjalanan. Ketidakpercayaan yang disebabkan bukan karena rasa ketidakmampuan bersaing dengan peserta didik yang lain. Lagi-lagi, masalah ekonomi kadang berdampak terhadap banyak hal. Rasa percaya diri salah satunya.

Pilihan lainnya waktu itu adalah sekolah yang berada di dekat rumahnya. Sekolah yang mudah diakses. Sekolah yang tidak terlalu banyak membutuhkan biaya dibanding sekolah di Sekayu. Dengan berbagai pertimbangan, diputuslah pilihan.

“Zulham, jadi kau lanjut di mano SMA agek?” tanya Arif. Kawan dekat Zulham ketika berseragam putih biru.

“Kalo kau di mano?” jawabnya dengan balik mengajukan pertanyaan.

“Aku di SMK Negeri 3 Sekayu,” ujarnya.

“Oooh, kalo aku SMA Negeri 1 Lawang Wetan. Bismillah…” ujarnya.

Masih juga belum bergerak, Zulham terpesona dengan sekolah unggulan itu. Ia masih tertegun di parkiran. “Wajar jika dulu aku sangat ingin sekolah di sini,” ujarnya dalam hati. Kekerenannya ternyata tidak hanya karena guru dan peserta didiknya yang cerdas, tetapi juga karena sarana dan prasarananya menunjang semua aktivitas sekolah. Sarana dan prasarana sekolah yang tidak ia temukan di sekolahnya dulu.

“Memang benarlah pepatah lama, kalo jodoh tidak akan ke mana. Akhirnya, kita berjodoh ya smanda,” ujarnya dengan sedikit tertawa.

Karang Anyar, 14 Januari 2022

Zulham, alias Armanto.

Sedikit catatan: Zulham adalah nama pertama yang diberikan abah padaku.

“Kan sudah ada sepupunya yang menggunakan nama Zulham,” ujar nenek kepada Abah. Setelah beberapa saat, didapatilah ilham akan sebuah nama untukku. Armanto, nama yang akhirnya tertulis di akta kelahiranku.

—Selesai—

Bapak/Ibu yang saya hormati,

Saya Armanto, pengajar baru di SMA Negeri 2 Unggul Sekayu. Saya mengampuh mata pelajaran bahasa Indonesia. Anak kedua dari empat bersaudara ini berasal dari Desa Karang Anyar, Kecamatan Lawang Wetan, Kabupaten Musi Banyuasin. Mohon selalu bimbingan dan arahannya di sekolah ini.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.